Ketua MAJT, DR KH Noor Achmad : Biarkan budaya berkembang di komunitasnya, jangan dipaksakan masuk ke area akidah.”

Gema takbir membahana di ruangan sekretariat Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Tak henti-hentinya lisan para pejuang akidah basah oleh tahmid lantaran aspirasi pembatalan perayaan acara cap go meh di MAJT dikabulkan, Jumat (17/2).


Setelah negosiasi sejak Kamis malam sampai Jumat sore, perjuangan umat Islam tidak sia-sia. Pihak-pihak terkait, mulai dari pengurus MAJT, tokoh muslim Jawa Tengah, aparat keamanan, hingga penyelenggara acara cap go meh, akhirnya menyepakati pembatalan acara.

Pembatalan ini diumumkan Ainul Yaqien, amir ormas Islam Semarang, “Alhamdulillah, MAJT sudah membatalkan ijin penyelenggaraan cap go meh, dengan pertimbangan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Semoga Allah selalu melindungi akidah umat Islam.”

Ketua MAJT, DR KH Noor Achmad, menjelaskan, “Dikawatirkan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Bagi umat Islam, toleransi bukan membiarkan wilayah akidah dijelajahi umat lain. Toleransi adalah menghargai perbedaan tanpa melibatkan wilayah akidah masing-masing. Biarkan budaya berkembang di komunitasnya, jangan dipaksakan masuk ke area akidah.”

Dalam audiensi ini hadir Ali Mufiz ketua pertimbangan MAJT mantan gubernur Jateng, DR KH Noor Achmad ketua MAJT, KH Muhidin sekretaris MAJT, Habib Hasan bin Toha tokoh masyarakat, KH Ahmad Daroji Ketua MUI Jateng, KH Haris Shodaqoh pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, dan KH Istiajid.

Dari pihak aparat keamanan hadir AKBP Budi Agus selaku Kasub Dit Intelkam Polda Jateng, AKBP Ventie Muzak SIK MIK selaku Kasat Intelkam Polrestabes Semarang, Kompol Dedy selaku Kapolsek Gayamsari, dan Mayor Inf Sugiarto selaku Danramil Gayamsari.

Perwakilah etnis Tionghoa yang hadir adalah Redy Nusantara selaku panitia perayaan cap go meh dan Gautama Setiadi selaku sesepuh PITI.

Nah Lho, KPU sendiri Akui kalau Website Mereka Diserang Hacker

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengakui ada pihak yang ingin mencoba mengganggu akses informasi hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui sistem informasi yang dimiliki penyelenggara. Meski begitu, KPU bisa mengantisipasi gangguan tersebut dan memastikan apa yang ditampilkan sesuai dengan hasil yang didapat di lapangan.


”Jadi memang ada upaya untuk mengganggu tapi tidak (sampai) terganggu. Artinya bahwa mereka berupaya tapi tidak (sampai) mengganggu,” kata Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay di kantornya, Kamis (16/2/2017).

Hadar mengatakan dampak yang ditimbulkan dari gangguan tersebut memang menyebabkan lalu lintas (traffic) menuju laman (website) milik KPU menjadi lebih rendah. Namun tidak sampai menyebabkan server down. ”Iya memperlambat,” tutur Hadar.

Hadar juga tidak merinci lebih jauh tentang asal dari pihak yang hendak mengganggu server milik KPU tersebut. Termasuk indikasi yang beredar bahwa ancaman berasal dari luar negeri. ”Kebetulan akses masyarakat yang mau lihat (hasil pilkada) juga sangat tinggi,” tambahnya.

Sebelumnya muncul informasi di media sosial tentang ancaman peretas (hacker) yang menyerang laman milik KPU. Dalam informasi itu disebutkan bahwa serangan dilakukan dengan mengirimkan jutaan traffic dalam hitungan menit sehingga menyebabkan server KPU down. sumber: sindonews

Sulit dipercaya , Jumlah Suara Ahok-Djarot di TPS Ini Berubah dari 82 Menjadi 363

Ada keanehan dari data rekapitulasi perolehan suara dari TPS 2 Kelurahan Setiabudi Jakarta Selatan. Jumlah suara pasangan nomor 2, antara data pada form C1 dengan rekapitulasi di Web KPU berbeda jauh.

Pada data form C1 bahwa pasangan Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Syaifullah Yusuf tertulis hanya mendapatkan 82 suara, sedangkan pada data rekapitulasi mendapatkan 363 suara. Ada penambahan suara sebanyak 281 suara atau sekitar 342%.


Selain itu pada pasangan nomor urut 1 Agus-Sylvi juga berbeda nilainya, pada form C1 memperoleh 24 suara, sedangkan pada data rekapitulasi web KPU memperoleh 13 suara.

Begitu juga pasangan nomor urut 3 Anies-Sandi, pada form C1 memperoleh 54 suara, sedangkan pada data rekapitulasi web KPU memperoleh 61 suara.

Sementara saat dikonfirmasi kepada sejumlah Saksi di Kelurahan Setiabudi, semua sepakat bahwa untuk TPS2 Setiabudi yang benar data di form C1, sedangkan data rekapitulasi di web KPU salah.

"Saya kaget melihat data di web KPU, jumlah suara berbeda dengan yang sesungguhnya" ujar salah seorang Saksi Kelurahan Setiabudi kepada Islamedia, kamis(16/2/2017).

Berikut ini data rekapitulasi TPS 2 Kelurahan Setiabudi Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan di Web KPU.

Berikut ini data asli Form C1 hasil perhitungan suara pada Pilkada, rabu(15/2/1027) kemarin.


Ini Video Paling Kocak yang dianggap sebagai Pemilih Siluman Pilkada DKI,

Hari pencoblosan Pilkada DKI Jakarta digelar pada Rabu (15/2/17) menyisakan banyak cerita. Di antara yang paling banyak beredar di media sosial adalah adanya pemilih siluman.


Banyak pemilih yang tidak dikenal oleh warga sekitar mendatangi tempat pemungutan suara. Mereka hanya membawa kartu tanda penduudk elektrik tanpa menyertakan surat panggilan dari KPPS setempat.

Dalam tayangan berikut, seorang berbaju putih berambut plontos ditanyai oleh seorang warga. Si baju putih yang diindikasi sebagai salah satu pemilih siluman ini tidak bisa menjelaskan dimana tempat tinggalnya.

Ia hanya menyebut lapangan bola berkali-kali. Saat ditanya 'Lapangan mana?', ia tetap menjawab 'Lapangan bola.'

Tarbawia belum mendapatkan informasi lebih lanjut tentang validitas video ini. Namun, video ini merupakan salah satu yang paling viral di berbagai media sosial, termasuk grup WhatsApp, fesbuk, instagram, dan twitter.[beritaislam24h.id / tbc]




Konyol, Benarkah Surat Suara Bergambar Ahok-Djarot Muncul di TPS Papua

Kejadian lucu terjadi di TPS 20, RT 02 RW 09, Kelurahan Ardipura, Distrik Jayapura Selatan, Papua, Rabu (15/2). Saat penghitungan dilakukan di TPS tersebut, tiba-tiba muncul foto Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat di salah satu suaranya. Parahnya lagi, foto Ahok-Djarot itu dicoblos.


Kejadian itu bermula saat petugas KPPS membuka satu persatu lembaran surat suara dari dalam kotak suara untuk dihitung. Tiba-tiba di tengah penghitungan terdapat gambar Ahok-Djarot. Foto pasangan Cagub dan Cawagub DKI Jakarta itu yang ditempel di kolom kotak kosong yang berada di sebelah pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano dan H. Rustan Saru.

Di bawah stiker tersebut juga terdapat tulisan Ahok-Djarot dan terdapat bekas tusukan atau dicoblos. Ketua KPPS 20, Kelurahan Ardipura, Heri Sineri yang dikonfirmasi Cenderawasih Pos mengakui adanya surat suara yang ditempel gambar Ahok-Djarot di TPS tempatnya bertugas.

Surat suara ini menurut Heri ditemukan saat dilakukan penghitungan suara usai pencoblosan. “Gambar Ahok-Djarot tersebut ditempel di kolom kotak kosong dan dicoblos di gambar tersebut,” ungkap Heri saat dihubungi Cenderawasih Pos, kemarin.

Heri mengaku tidak mengetahui apa motif dari pemilih yang menempel gambar Paslon Gubernur dan Wagub DKI Jakarta Ahok-Djarot di kertas suara yang diberikan petugas kemudian dicoblos. “Soal motifnya kami tidak tahu, karena kami hanya melayani warga yang datang menyalurkan haknya. Mungkin pemilih ini hanya iseng karena kecintaanya pada Ahok-Djarot,” ujarnya.

Temuan kertas suara yang terdapat gambar Ahok-Djarot menurut Heri hanya terjadi di TPS 20. Selain itu, hanya satu lembar kertas suara yang ditemukan. [beritaislam24h.id / jpc]

Viral, Spanduk Ganyang PKI Terpasang di Sampang

Kemunculan lambang Partai Komunis Indonesia (PKI) beberapa waktu lalu di Kabupaten Pamekasan memicu reaksi dari warga di Madura.

Menindaklanjuti hal tersebut warga di Kabupaten memasang spandok bertuliskan umat Islam Bersatu Ganyang PKI.


Sepanduk-spanduk ganyang PKI itu muncul di beberapa pusat keramaian, salah satunya terpampang jelas di pertigaan Kecamatan Torjun.

"Kami hanya menghimbau, jangan terprofokasi munculnya lambang PKI, jika ada warga yang menemukan segera langsung menginformasikan kepada pihak yang berwajib, tolong sepenuhnya percayakan kepada kami," jelas Kapolres Sampang, AKBP Tofik Sukendar usai mempimpin upacara serah terima jabatan dua perwiranya, Selasa (14/2/2017).

Tofik menambahkan, untuk menjaga kondusifitas di bawah, pihaknya cenderung bergerak untuk melakukan sosialisi bahaya tentang kelompok-kelompok terlarang di Indonesia.

"Harapan kami ada kerjasama yang selalu dibangun ditingkat masyarakat dan Polisi, agar apapun yang bisa menganggu kondusifitas warga bisa teratasi dengan cepat," tegasnya.

Sekedar diketahui, beberapa waktu lalu dibeberapa tembok milik warga Sampang, muncul gampar palu dan arit, mirip seperti lambang partai terlarang di Indonesia.[beritajatim]